Showing posts with label JAPAN CORNER. Show all posts
Showing posts with label JAPAN CORNER. Show all posts

Saturday, January 15, 2011

REFERENSI BUKU : PRINCESS MASAKO , KISAH TRAGIS PUTRI MAHKOTA DI SINGGASANA NEGERI SAKURA



PRINCESS MASAKO
Kisah Tragis Putri Mahkota di Singgasana Negeri Sakura
  • Bilbiografi :
  • Penulis : Ben Hills
  • Judul : PRINCESS MASAKO – Kisah Tragis Putri Mahkota di Singgasana Negeri Sakura
  • Judul Asli : PRINCESS MASAKO – Prisoner of the Chrysanthemum Throne
  • Penerjemah : Rita Setyowati
  • Editor : Aisyah
  • Diterbitkan : Pustaka Alvabet Anggota IKAPI Ciputat Mas Plaza, Blok B/AD, Jl. Ir. H. Juanda, Ciputat - Tangerang 15412 Telp. (021) 74704875 – 7494032 Fax. (021) 74704875 Email. redaksi@alvabet.co.id
  • Halaman : 372 hlm. 13 x 20 cm
  • Terbit : Juni, 2009.
  • Jenis Buku : Biografi
  • Tema : Menceritakan tentang kehidupan keluarga kekaisaran Jepang.
  • Struktur Buku :
  • Pengantar
  • Daftar Isi
  • Isi
  • Epilog
  • Glosarium
  • Daftar Pustaka
  • Indeks

  • Sinopsis
  • Ben Hills adalah seorang jurnalisme infestigasi asal Australia, ia adalah pemenang Walkley Award (Pulitzer Australia) dan Graham Perkin Award 2007. Dia bekerja sebagai korespondensi Jepang untuk The Sydney Morning Herald dan The Age selama 1992-1995. Selain di negeri para Samurai, jangkauan liputannya juga meluas ke kawasan China, Siberia, serta Korea Selatan dan Korea Utara. Karyanya yang lain yakni Japan: Behind the Lines and Blue Murder.
  • Selain penulis mendatangi dan mewawancarai orang-orang yang dianggap penting dan mengetahui sekelumit cerita tentang kehidupan kerajaan, penulis juga mengambil sumber dari beberapa surat kabar, majalah, website dan buku-buku yang mengandung banyak informasi.
  • Tujuan penulis menulis buku ini adalah untuk menyingkap suatu tabir yang selama ini menjadi teka-teki orang banyak, khususnya masyarakat Jepang dan pemerintahan kekaisarannya. Buku ini dapat dibaca oleh seluruh kalangan masyarakat pada umumnya.
  • Buku ini mendapatkan respon dari berbagai kalangan, yang telah membacanya beberapa diantaranya adalah :
  • Kevin Mcgue, Metropolis
“Ketika Masako Owada menikahi Pangeran Naruhito pada 1993, masyarakat Jepang berharap dia akan mengarungi hidup baru didalam lingkaran keluarga kerajaan Jepang, tetapi kini, impian itu hanyalah puing-puing kehancuran belaka”
  • David Chew, Today Magazine
“Ben Hills, melalui buku ini, telah menyulut debat sengit di Jepang dan Australia, terutama di antara jajaran pejabat diplomatik kedua negara”
  • Chaika (Australia) www.amazon.com
“Kisah yang brilian, tetapi menyedihkan, tentang seorang perempuan yang mulanya menikmati kariernya sebagai diplomat”
  • J. Minakata (Mexico) www.amazon.com
“Saya tidak bisa berhenti membacanya. Kusarankan anda membaca buku ini”
  • Salah satu bagian penting dari buku “orang-orang didalam istana tetap menyangkal mereka bagaimanapun bertanggung jawab atas sakit mental yang darinya tiga dua dari tiga orang kalangan biasa yang menikah dengan anggota kerajaan kini menderita, dan sebuah kebahagiaan dari cerita ini tampak mustahil. Kelahiran seorang bayi laki-laki yang tepat pada waktunya, telah menyelamatkan keluarga kerajaan dunia yang paling kuno dari kepunahan untuk saat ini, namun itu belum menjawab pertanyaan mengenai siapa yang akan mereformasi organisasi yang amat rusak ini.”
Ben Hills dalam kutipannya di Today Magazine “ Tidaklah penting apakah masyarakat Jepang suka atau benci buku ini. Persoalannya, sudahkah mereka memiliki hak untuk membacanya dan menentukan penilaian mereka sendiri “
  • Kelebihan
ü Buku ini adalah buku yang “berani” mengungkapkan sisi lain sebuah kehidupan kerajaan yang diselubungi oleh doktrin kebudayaan.
  • Kekurangan
ü Buku ini menggunakan kata kata “baku” sehingga terkadang sulit untukl mngartikan apa yang dimaksud penulis dalam buku ini.
  • Sinopsis
Inilah impian kebanyakan kaum hawa : menikahi seorang pangeran tampan, pindah ke istana megah, dan hidup bahagia selamanya. Tetapi, bukan seperti itu yang terjadi pada Masako Owada, seorang perempuan sangat modern yang bertubrukan dengan sebuah sistem kuno.
Menelisik diam-diam keluarga Kekaisaran Jepang yang misterius, buku ini menerangkan tentang tekanan yang dilakukan Pengurus Rumah Tangga Kekaisaran Jepang terhadap Putri Masako yang tidak bisa menghasilkan keturunan lelaki guna menjaga dinasti kekaisaran tertua di dunia dari kepunahan. Karya ini juga mengungkapkan dampak lahirnya anak lelaki dari rahim Putri Kiko, saudara ipar Putri Masako, pada kehidupan Masako yang sudah penuh masalah dan pada harapan yang mungkin dia bangun bagi putrinya, Aiko kecil, untuk menjadi kaisar perempuan Jepang.
Mungkin ini kaya Lady Diana-nya versi Jepang kali ya... ehhhmm... penasaran?? cepet beli bukunya........

ESTETIKA DALAM STRUKTUR BANGUNAN PERUMAHAN DI JEPANG

Jenis dan Gaya Perumahan Jepang
Keberhasilan Pembangunan Jepang dan Sosial-Budaya Masyarakatnya. Berkembangnya Ilmu pengetahuan, teknologi dan industri permukiman bertingkat, menuju tingginya hak cipta intelektual Jepang. Dalam hal penanggulangan, pendampingan dan pembangunan ke depan; generasi-regenerasi dan produksi-reproduksi berkelanjutan( multiflier effect komprehensif). Pada tahun 1998 rakyat Jepang telah berhasil membangun 50,2 juta tempat tinggal atau 1.13 unit apartemen/kondominium/rumah per keluarga.
A.1. Ikko Date (一個立って)
Ikko Date adalah salah satu bentuk rumah jepang yang mempunyai 2 jenis, yaitu : Wasitsu (Japanese style) dan Yositsu (West Style). Dalam wasitsu ada berbagai ruangan dan furniture yang bergaya asli jepang, contohnya :
Tokonama (model ruang tamu dan dijadikan ruang tidur jika malam)
Ima (cha no ma) Ruang Tamu
Butsudan / Kamidana (altar Budha dan Shinto)
Genkan (pintu masuk), Fusuma (pintu oshi ire), Byobu (pintu sekat), Shouji (pintu dorong), Zabuton (tempat duduk ala Jepang), Yofuku Dansu (lemari baju), Oshi Ire (lemari kasur), Kage Jiku (lukisan di ruang tamu), Kotatsu (meja yang ada penghangatnya), dll.
Dalam Wasitsu ruangan cenderung dirancang dalam gaya Jepang, berlantaikan tatami. Orang melepaskan sepatu begitu memasuki rumah agar lantai rumah tetap bersih. Genkan, jalan masuk, merupakan tempat untuk melepaskan sepatu, meletakkannya, dan mengenakannya kembali. Setelah melepaskan sepatu, orang Jepang mengenakan sandal rumah.
Tatami adalah sejenis tikar tebal yang dibuat dari jerami, sudah dipakai di rumah Jepang sejak sekitar 600 tahun yang lalu. Sehelai tatami biasanya berukuran 1,91 x 0,95 meter. Ukuran ruang/kamar biasanya didasarkan pada jumlah tatami. Lantai tatami terasa sejuk pada musim panas dan hangat pada musim dingin, dan tetap lebih segar daripada karpet selama bulan-bulan lembab di Jepang.
A.2. Mansion(マンション)
Di Jepang, istilah mansions adalah bangunan-bangunan yang terdiri dari beberapa lantai dan mempunyai banyak tempat tinggal. Umumnya keluarga-keluarga yang tinggal di sini termasuk ke dalam kategori high-class.
Bangunan ini terbuat dari feroconcrete dengan tata ruang yang sangat baik. Biasanya jumlah ruangan untuk setiap keluarga terdiri dari tiga kamar, satu kamar mandi dan WC, dan satu ruangan dapur. Saluran listrik, gas dan air sudah tersedia, dan kadangkadang heater pun untuk setiap ruangan sudah dipasang kecuali di kamar mandi dan WC.
Bagi mereka yang berminat untuk menyewa mansions ini di haruskan membayar reikin (uang sewa) dan shikikin (uang pangkal) antara ¥ 600.000 sampai dengan ¥ 1.000.000 tergantung dari besar-kecilnya ruangan dan lokasi dari mansions itu sendiri. Demikian pula perbandingan besarnya reikin dan shikikin tidak sama untuk setiap mansions.
Untuk reikin ini biasanya hanya berlaku untuk setiap dua tahun. Jadi bila ingin diperpanjang lagi para penghuninya setelah dua tahun harus membayar kembali reikin. Kemudian shikikin untuk setiap dua tahun akan dikembalikan dengan memperhitungkan dulu kerusakan ruangan yang ada, sehingga jumlah uang shikikin yang akan dikembalikan kepada si penyewa sering menjadi berkurang karena adanya klaim dari yang punya mansions atas kerusakan yang ada tersebut.
Uang sewa setiap bulan untuk mansions ini juga sangat mahal. Uang sewa ini bervariasi antara ¥ 75.000 sampai ¥ 150.000 dan tidak termasuk untuk pembayaran listrik, gas, dan air. Biasanya yang menyewa mansions ini adalah para pekerja perusahaan (kaisha-in) yang sudah mempunyai kedudukan.
A.3. Apa-to (アパト)
Istilah apato adalah satu atau dua bangunan yang terdiri dari dua lantai, dan biasanya dibuat dari kayu. Di Jepang ada dua macam apato yaitu :
(1) Yang mempunyai dua atau satu kamar ditambah dengan kamar mandi dan WC dan (2) Yang mempunyai dua atau satu kamar, ditambah dengan WC saja (tanpa kamar mandi).
Kedua macam apato tersebut dilengkapi dengan satu ruangan dapur. Tentunya yang mempunyai kamar mandi dan tanpa kamar mandi berbeda dalam soal pembayaran reikin dan shikikin serta uang sewa per bulannya. Apato yang tanpa kamar mandi pembayarannya lebih murah, namun bagi mereka yang akan menyewa apato ini untuk mandinya harus pergi ke sento (tempat mandi umum). Untuk sekali mandi harus bayar ¥ 230 (pada tahun 1988). Umumnya untuk apato yang tidak ada kamar mandinya terletak berdekatan dengan sento. Pembayaran reikin dan shikikin untuk kedua macam apato tersebut bervariasi dari ¥ 100.000 sampai dengan ¥ 500.000, dan sewa per bulannya antara ¥ 25.000 sampai dengan ¥ 60.000. Adanya variasi harga ini tergantung dari ada atau tidaknya kamar mandi, jumlah kamar, dan jarak ke kota. Di Jepang umumnya apato digunakan oleh kebanyakan orang yang berpenghasilan rendah hingga menengah.
Di dalam masalah penyelesaian reikin dan shikikin untuk seluruh jenis apato tersebut di atas pada prinsipnya sama dengan untuk mansions. Dengan demikian bila keluarga yang menyewa ingin terus tinggal, setelah dua tahun Reikin harus dibayar kembali. Pengembalian shikikin kepada si penyewa juga akan sangat tergantung dari kerusakan apato yang disewa.
A.4. Danchi 団地
Danchi diartikan sebuah bangunan yang berdiri si suatu bagian tanah yang berupa sekumpulan rumah yang berada di sekitar pabrik atau perumahan khususnya di bangun di luar daerah (di luar kota besar). Dalam 1 lahan luas, dibangun 3 atau lebih bangunan flat yang bentuknya persis sama dan bangunannya tinggi-tinggi, minimal 10 lantai. Dalam 1 lantai ada beberapa unit tempat tinggal. Biasanya Danchi lebih luas daripada apa-to atau mansion, karena diperuntukkan untuk keluarga
Pada tahun 1955, Jepang memulai pembangunan perumahan untuk pabrik yang dibangun oleh pemerintah setempat. Sampai dengan tahun 70-an dibangun komplek perumahan yang harga sewanya murah. Pendirian Danchi ini dimaksudkan untuk menghadapi perpindahan penduduk ke kota besar. Penghuni Danchi adalah Karyawan perusahaan yang memfasilitasi Danchi tersebut.
Jenis Danchi ada 3 macam : Jutaku Danchi (yang ada disekitar perumahan), Kogyou Danchi (yang ada disekitar pabrik, khusus karyawan pabrik), Dan Nogyou Danchi (yang ada disekitar lahan pertanian, khusus untuk buruh tani).
A.4. Gesshuku
Sistem Gesshuku atau indekos adalah kamar yang bisa di sewa khusus untuk mahasiswa. Biasanya mahasiswa tinggal bersama dengan pemilik rumah (Oya-san). Mahasiswa yang memilih gesshuku ini biasanya disediakan kamar tersendiri dan bagi rumah yang bertingkat tempat gesshuku biasanya diletakkan pada tingkat dua dan mempunyai pintu masuk dan keluar tersendiri terpisah dari pemilik rumah.Dulunya gesshuku ini hanya diperuntukan bagi mahasiswa Jepang. Akan tetapi baru-baru ini mahasiswa asingpun, sampai dengan jumlah tertentu, sudah bisa menyewanya. Namun demikian mahasiswa dan mahasiswi tidak diperbolehkan berada dalam satu gesshuku. Demikian pula mahasiswa yang membawa keluarganya tidak diperkenankan tinggal dalam Gesshuku ini. Semua aktivitas di gesshuku yang melibatkan orang lain (di luar penghuni gesshuku) harus sepengatahuan Oya-san.
Fasilitas yang ada dalam gesshuku ini adalah selain kamar untuk setiap penghuni, tetapi juga dilengkapi dengan alat mencuci pakaian dan WC yang dapat digunakan oleh seluruh penghuni. Tidak semua gesshuku mempunyai dapur umum dan kamar mandi. Dengan demikian untuk gesshuku yang tidak ada kamar mandinya maka bila penghuni ingin mandi terpaksa harus pergi ke pemandian umum (Osento). Pada Osento ini sudah tersedia semua perlengkapan untuk mandi seperti handuk kecil, sabun, hair dryer dll. Pria dan wanita mempunyai kamar mandi yang terpisah. Orang Jepang biasanya mandi bersama sama dalam satu kamar baik dalam kamar mandi pria maupun wanita. Dalam tiap kamar mandi disediakan tempat duduk plastik untuk mandi yang dilengkapi shower untuk air dingin dan air panas. Selain shower disediakan bak air panas yang disebut ofuro.

MENGENAL "COSPLAY & HARAJUKU STYLE" (BUDAYA REMAJA JEPANG)




ISTILAH

コスプレ(ko su pu ru) berasal dari kata costume + roleplay
Sebuah subkultur Jepang yang berpusat pada pakaian yang mengacu pada karakter dari 漫画 (manga/komik) 、アニメ(a ni me/animasi)、videogame dan TV
レヤス(re ya su): para pelaku cosplay. Asal kata: layers yang kemungkinan singkatan dari players
カメコ(ka me ko) : orang yang mengambil gambar レヤス (re ya su). Singkatan dari kamera kozo atau kamera boy.
クロスプレ(ku ro su pu ru): orang yang bermain kostum lawan jenis.

SEJARAH
Berasal dari peserta konvensi fiksi ilmiah di Amerika sejak paruh kedua tahun 1960-an, yang mengenakan kostum seperti tokoh-tokoh film fiksi ilmiah seperti star trek.
Di Jepang, peragaan "cosplay" pertama kali dilangsungkan tahun 1978 di Ashinoko, Prefektur Kanagawa dalam bentuk pesta topeng konvensi fiksi ilmiah Nihon SF Taikai ke-17
Majalah anime di Jepang sedikit demi sedikit mulai memuat berita tentang acara cosplay di pameran dan penjualan terbitan doujinshi.
Liputan besar-besaran pertama kali dilakukan majalah Fanroad edisi perdana bulan Agustus 1980. Edisi tersebut memuat berita khusus tentang munculnya kelompok anak muda yang disebut "Tominoko-zoku" ber-cosplay di kawasan Harajuku dengan mengenakan kostum baju bergerak Gundam.
1985, hobi cosplay semakin meluas di Jepang karena cosplay telah menjadi sesuatu hal yang mudah dilakukan. Pada waktu itu kebetulan tokoh Kapten Tsubasa sedang populer, dan hanya dengan kaus T-shirt pemain bola Kapten Tsubasa, orang sudah bisa "ber-cosplay".
Kegiatan cosplay dikabarkan mulai menjadi kegiatan berkelompok sejak tahun 1986.
1998 di Akihabara mulai banyak toko, café dan restoran yang mengambil tema cosplay dengan sasaran pasar penggemar cosplay. Pelayannya pakai cosplay.
Ada 2 jenis : メイド カフェ (meido kafe/ pelayan kafe)yang sasaran pasarnya adalah pria dan 執事喫茶 (shitsuji kissa) yang sasaran pasarnya wanita.
Para pelayan memperlakukan pelanggan atau tamu sebagai tuan dan nyonya, bukan sebagai tamu biasa. Misal, ketika tamu masuk mereka akan menyambut dengan sapaan :“ お帰りなさいませ、ご主人様! (O kaerinasaisama, go shujinsama!/ Selamat Datang tuan dan nyonya!) Atau dengan berlutut ketika menuangkan gula atau susu ke dalam the atau kopi.
Pelayan wanita (メイド/meido )sering muncul dalam manga atau anime. Karakter meido bisa cute atau genit merangsang tergantung penulis.
Popularitas restoran cosplay telah menyebar ke daerah lain di Jepang dan luar negeri seperti Osaka, Hong Konog, Taiwan, Singapura dan Kanada.
TREND
Event cosplay dewasa ini bertambah karena suksesnya film-film seperti The Matrix, Star Wars, The Lord of The Ring.
Kaburnya batasan antara kostum yang berasal dari karakter komik, film, dll dengan kostum yang sedang ngetren saat itu.
コスプレ=原宿スタイル?( cosplay = harajuku style? )
Harajuku adalah sebuah wilayah di sekitar stasiun Harajuku di Tokyo.
Istilah harajuku style digunakan untuk menggambarkan anak-anak remaja yang berpakaian dengan bermacam-macam style di sekitar harajuku.
MACAM-MACAM STYLE COSPLAY
Gothic Lolita : gaya gothic, feminin, elegan sehingga pemakainya terlihat seperti boneka victoria.Asalnya berwarna hitam seluruhnya atau hitam dengan aksen putih. Macamnya : kurorori, shirorori, gurorori (grotesque lolitaà penampilan dengan plester atau “terluka”), punk lolita (ada sentuhan punk).
Visual Kei : sebuah gaya yang berasal kalangan musisi, ditandai dengan gaya eksentrik dan flamboyan, make-up mencolok, gaya rambut yang unik dan kostum yang rumit.
Decora (decoration) : sebuah gaya yang memiliki warna-warna terang dan ikat/jepit rambut. Baju yang digunakan berlapis-lapis.Aksesori yang digunakan banyak dan menimbulkan suara berisik jika bergerak. Oleh orang dari luar negeri sering disebut dengan “fruits style”

Credit : Dwi ARL/Nihon Jijou/UNJ/2008